Sunday, October 6, 2013

Penaklukan Konstantinopel & Terdamparnya Ikan Herring

http://bit.ly/15QrlLb
Penaklukan Konstantinopel & Terdamparnya Ikan Herring
Sambil berangkat kerja, sambil baca ini. Smg mjd langkah kecil untuk membuat a big difference.

Friday, October 4, 2013

Ebook Hijab Karya Syaikh Ibnu Taimiyah

http://bit.ly/1f6OjAA
Ebook Hijab Karya Syaikh Ibnu Taimiyah
Islam adalah ajaran yang sangat sempurna, sampai-sampai cara berpakaian pun dibimbing oleh Allah SWT, Dzat yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi diri kita. Tujuan utama berpakaian dalam Islam adalah menutup aurat secara sempurna. Silahkan download gratis buku karya syaikh Ibnu Taimiyah yang membahas tuntas tentang hijab berikut.

Ebook Hijab Karya Syaikh Ibnu Taimiyah

http://bit.ly/1f6OjAA
Ebook Hijab Karya Syaikh Ibnu Taimiyah
Islam adalah ajaran yang sangat sempurna, sampai-sampai cara berpakaian pun dibimbing oleh Allah SWT, Dzat yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi diri kita. Tujuan utama berpakaian dalam Islam adalah menutup aurat secara sempurna. Silahkan download gratis buku karya syaikh Ibnu Taimiyah yang membahas tuntas tentang hijab berikut.

Cerita Cinta Indonesia

http://bit.ly/1aR9vFZ
Cerita Cinta Indonesia
Cerita tentang perilaku orang Indonesia tidak ada habisnya. Dulu waktu saya masih kecil, sering mendengar cerita yang formatnya seperti ini. Ada orang Indonesia dan minimal 2 orang dari negara lain. Ceritanya selalu sama, suatu perlombaan atau sejenis pamer-pameran, dan yang selalu menyebabkan lelucon selalu orang yang terakhir disebut, yaitu orang Indonesia. Tentu saja bukan karena kehebatannya, tapi karena teknologi yang terbelakangnya. Yang terakhir saya lihat beredar di facebook tentang "Handphone telapak tangan orang Amerika, telepon jempol telunjuk orang Jepang, dan faximili praktis orang Indonesia".

Dulu, saya bersikap biasa saja terhadap cerita-cerita seperti ini. Tapi kok sekarang saya suka merasa sedih ya...

Negara orang.. memang negara maju, oleh karenanya, warga negaranya mencintai negaranya. Tapi, apakah pernah coba dibalik cara pikirnya, yaitu... "<em>Mungkin, karena mencintai negaranya lah, maka negara orang bisa maju". </em>

Masuk akal toh?

Jika mencintai negaranya, maka apa yang akan diperbuat mereka?

1. Mungkin mereka akan mencintai produk dalam negeri, tidak terpesona dengan produk asing, yang tentu saja hal ini akan meningkatkan daya produksi dalam negeri.

2. Mungkin mereka akan bersungguh-sungguh membangun negaranya, mengolah tanahnya, memaksimalkan potensinya.

Dan banyak lagi perbuatan yang mereka lakukan.

Saya sungguh-sungguh senang jadi orang Indonesia. Terutama saya Muslim. Di Indonesia, saya bisa bebas berhijab dengan gaya apapun hijabnya. Bisa menjalankan ibadah dengan bebas. Bisa bercocok tanam apa saja. Untuk di rumah saya, alhamdulillah masih mendapatkan air dengan mudah. Di bulan puasa, tidak perlu menjalankan puasa dalam suhu 30 derajat C-an, dan tidak perlu pula macam-macam pakaian seperti di negara 4 musim. Di sini, pakaian adalah untuk sepanjang tahun. Di sini pula, saya bisa mendapatkan persahabatan tulus dari tetangga-tetangga sekitar rumah. Alhamdulillah...

Nah, sekarang apa yang bisa saya perbuat? Saya mungkin cuma 1 orang di antara ratusan juta orang yang seharusnya memang mencintai negeri ini. Dan yang bisa saya lakukan hanya menyentuh hati orang-orang terdekat saya, mendidik anak-anak untuk mencintai ibu pertiwi nya, tanah airnya. Cita-cita dulu untuk keliling dunia sekarang sudah hilang, yang ada, ingin terlebih dahulu mengajak mereka mengenal negerinya yang jauh lebih indah, baru kemudian negeri orang. Mudah-mudahan, negara kita bisa menjadi negara yang maju dan baik di kemudian hari di tangan mereka.

NB. Anekdot ngga lucu ala Bunda Azka

Ada 3 orang sedang liburan di sebuah pulau, yaitu orang Amerika, orang Jepang, dan orang Indonesia. Mereka sedang berkumpul bersama-sama. Tiba-tiba ada bunyi telepon, mereka bersamaan dikabarkan kematian orang tua mereka. yang Amerika dan Jepang ditelpon dari panti jompo, yg Indonesia dari rumahnya. Orang Amerika dan Jepang tampak menyesali sesaat, kemudian langsung menelepon seseorang, untuk mengurus kematian orang tua mereka, mentransfer sejumlah uang, kemudian melanjutkan liburan mereka. Toh, sudah tidak bisa berbuat apa-apa katanya. Sementara yang orang Indonesia langsung pamit, dan berangkat naik pesawat paling awal, kemudian sempat menyolatkannya, membawakan kerandanya, menggali kuburnya, kemudian mendo'akannya. The End.

Hujan Emas di negeri orang, tetap lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Rumput tetangga selalu lebih hijau, meskipun terlihat enak dan nyaman, tetap lebih nyaman rumah kita. :)

Thursday, October 3, 2013

Aini Model Terbaru Spesial Idul Adha, Spesial Diskon!

http://bit.ly/18UqqIb
Aini Model Terbaru Spesial Idul Adha, Spesial Diskon!
Busana muslim anak Aini model terbaru koleksi Idul Adha. Dapatkan diskon khusus Idul Adha! Hubungi 08561154864, PIN BBM 29574217.

Balita Calistung = Mental Hectic

http://bit.ly/19WUFex
Balita Calistung = Mental Hectic
Dua hari yang lalu, ketika menjemput Azka, Bunda tiba-tiba disodori buku membaca suku kata oleh Ibu Guru nya.

"Bu, maaf.. Sekarang ada pelajaran membaca. Tadi Azka harus ngulang bagian ini karena belum bisa. Huruf-hurufnya sih udah hapal, tapi menyusun suku kata nya belum bisa". terang ibu guru panjang lebar.

Bunda sebetulnya terkesiap. Karena setahu Bunda, TK A pada tahun sebelumnya di situ belum diajari membaca. Dengan alasan itu Bunda memasukkan Azka ke TK tersebut. Karena, Bunda ingin mempraktekkan cara pendidikan di Finlandia yang baru diajari calistung secara intens diusia 7 tahun.

Dengan alasan sopan santun, Bunda tersenyum mengiyakan.

Bunda di rumah memandang prihatin kepada Azka. Padahal seumuran Azka ini, Bunda dulu belum belajar apa-apa. Belum bisa apa-apa. Dan belum dituntut apa-apa.

Katanya usia 3-5 tahun adalah usia Golden Age, dimana anak harus memiliki kecerdasan-kecerdasan tertentu yang berguna di masa depan. Tapi, menurut Bunda pribadi, berdasarkan yang Bunda baca juga, Bukan kecerdasan logis seperti calistung yang harus diutamakan untuk anak usia 3-5 tahun tersebut. tetapi, justeru kecerdasan emosional dan religi yang harus ditanamkan. Ajak dia mengenal Tuhannya dengan cara mengenal alam, bagaimana tanaman tumbuh, mengajari sopan santun, bersikap pada orang tua dan yang lebih muda, cara menyayangi, cara meluapkan kemarahan. Mengajarkan mereka kegiatan yang menyenangkan seperti melukis (bermain dengan cat air), membuat prakarya (bermain gunting dan lem), bermain alat musik, dan lain-lain. Sekolah seperti itulah yang Bunda harapkan untuk anak-anak Bunda.

Bunda berani bertaruh, untuk masalah calistung, seorang anak hanya perlu diajari selama 3 bulan, tidak perlu diajari dari usia 3 tahun. Apa gunanya? Mereka belum dituntut untuk berhitung dan membaca. Mereka hanya perlu muse (kesenangan) yang positif. Jika sudah waktunya, otak mereka akan siap menerimanya.

Selain itu, menurut penelitian, pembelajaran calistung terlalu dini akan mengakibatkan mental hectic pada anak di kemudian hari. Mental hectic jika diartikan secara bebas adalah kekacauan/keributan mental yang bisa mengakibatkan pemberontakan. Silahkan googling untuk lebih jelasnya.

Intinya, menurut Bunda, biarkan anak belajar secara alami menurut tingkat kematangannya. Tidak perlu dipaksa, Jika dia bertanya, maka jawablah, tapi tidak dengan sengaja mendudukkan anak, menyodorkan buku, dan mendiktenya. Kadang tidak habis pikir, kenapa orang tua ingin cepat-ceat anaknya bisa calistung. Untuk kebanggaan kah? Bahkan di komplek kami, TK yang lebih banyak bebannya malah semakin favorit. Ya ampun...

Ini hanya tulisan seorang Bunda yang prihatin dengan pendidikan usia dini.

Indonesia Berdaya, Menuju Kemandirian Umat

http://bit.ly/19WWVTg
Indonesia Berdaya, Menuju Kemandirian Umat
Memang sedang terjadi ironi dan paradok di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Rakyat kita hidup tidak berdaya di tengah negeri yang kaya raya ini, seperti ayam yang kelaparan di dalam lumbung padi. Kekayaan alam kita tidak mensejahterakan rakyat kita, tetapi mengkayakan negeri orang lain. Aset-aset kita tidak memberdayakan rakyat kita sendiri, bahkan divestasi aset-aset kita menjadikan masyarakat kita hanya sebagai pasar yang mendatangkan keuntungan bagi negara lain.

Beberapa waktu yang lalu kita dikejutkan dengan berita bahwa perusahaan Cina-Malaysia dengan mitra lokalnya akan menginvestasikan sekitar Rp. 20 – 50 trilyun untuk menggarap lebih dari satu juta hektar lahan sawah di Indonesia. Pertanyaannya, dari mana sumber lahan sawah ini berasal? Jika lahan sawah ini berasal dari lahan sawah petani yang rata-rata mempunyai lahan kurang dari seperempat hektar, maka akan ada lebih dari empat juta orang petani yang akan kehiangan kendali atas tanahnya. Atau malah bisa jadi kejual ke investor tersebut. Mereka akan berpindah kuadran dari pemilik sawah menjadi buruh, dari tuan tanah menjadi suruhan orang lain.